Konsultan ECO Batik Halus Solo, batik warna alam, berkelas, eklusive, tulis, cap, kombinasi tulis, tulis super halus, batik langka, sutra, limited edition, bukan batik pasaran, menerima pesanan batik sesuai design gambar, spesifikasi,harga dan kwalitas yang diinginkan pelanggan. Batik adalah nafas dan passion kami selama berpuluh tahun

Proses Pembuatan Kain Batik Klasik


Kain
batik klasik pada dasarnya terdiri dari 4 warna, biru tua, coklat tua, coklat muda dan putih. Berikut ini dijelaskan tahap demi tahap pembuatan satu kain batik klasik solo


Tahap pertama

Pewarnaan warna dasar yaitu biru tua, hasil dari tahap pertama ini disebut kain batik kelengan yang berwarna biru tua. Tahap awal batik terdiri dari nyorek, membatik dg malam, nembok yaitu mengeblok dengan malam, medel (nyelup warna biru tua dengan bahan nilo) terus dijemur dengan cara diangin anginkan, tidak terkena matahari langsung,  proses medel dilakukan berkali kali sampai didapatkan warna biru yang diinginkan, setelah proses medel selesai, dilakukan pengerokan, setelah dikerok malamnya dicelup dengan air panas, proses tahap awal selesai, hasil tahap ini dinamakan kain kelengan, prosesnya disebut mbironi. Kain yang kelengan yang berwarna biru tua dan putih ini juga sudah pantas bisa digunakan sebagai bahan pakaian

Satu pewarnaan warna dasar telah selesai, batik setengah jadi kelengan diproses lagi ke tahap ke dua dengan pencelupan warna coklat tua

Tahap kedua

Pewarnaan warna coklat tua, kain kelengan yang berwarna biru tua, dibatik dan ditembok lagi, kemudian dicelup dan dijemur lagi berulang kali dengan warna coklat yang disebut soga, prosesnya disebut nyogan, nyogan dan menjemur dilakukan berulang ulang 20-30 kali sampai didapatkan warna coklat yang mateng (tua), proses nyelup berulang ulang tahap kedua ini sama dengan proses tahap 1.

Tahap ketiga

Hasil tahap 2 dikerok dan dilorot malamnya, warna putih hasil penutupan malam diwarnai dengan warna coklat muda atau warna lain, kalau batik klasik cukup warna putih dicelup soga dan dijemur berulang 2-3 kali saja. Batik modern dan kontemporer memberikan sentuhan warna lain merah, kuning, hijau dll, pewarnaan warna lain tidak dicelup lagi tapi cukup dicolet kemudian dijemur, dicolet dan dijemurnya juga berulang ulang kali spt tahap2 lainnya. Semua proses tahap kedua dan ketiga ini biasa disebut proses mbabar. Ketelitian seluruh proses mbabar, proses pencelupan warna soga dan warna lain, bahan dan kwalitas pewarna, mateng tidaknya warna akan membedakan harga produk

Tahap akhir

Pada tahap akhir perlu penguncian terhadap warna2 yang telah dicelup dan dicolet, kain  batik hampir jadi tapi masih mudah luntur saat dicuci, agar tidak mudah luntur, proses terakhir dikunci atau mematikan semua warna yang telah dicelup, penguncian dilakukan dengan bahan jeruk, tawas dan bahan alami lainnya, setelah dikunci baru dijemur, sampai proses ini pembuatan kain batik telah selesai. Penjelasan diatas adalah untuk batik tulis, untuk batik cap dan kombinasi kurang lebih proses dan tahapnya sama dengan diatas.

Jika ada 3 warna dalam batik, misal warna merah, hijau, biru. Saat pencelupan warna merah, maka gambar warna hijau dan biru harus ditutup dengan malam dengan cara menembok (ngeblok dengan malam). Kemudian malamnya dilorod dibersihkan dengan cara dikerok atau dicelup dengan air panas, saat pencelupan warna hijau, maka gambar warna merah dan biru ditutup malam dengan nembok, demikian seterusnya prosesnya sama saat pencelupan warna merah tadi. Jika ada warna A, B, C, D, saat pencelupan warna A, maka warna B, C, D harus ditutup dengan malam, saat pencelupan warna B, maka warna A, C, D harus ditutup dengan malam, sehabis ditembok kemudian dicelup warna tertentu terus dilorod malamnya, demikian seterusnya dilakukan berulang kali. Sedemikian rumit proses pembuatan sebuah kain batik, membuat kain batik menjadi lebih berkelas dibanding dengan kain printing yang sekali jadi dan mudah dicetak, berapapun warna yang ada.  Proses menjadi lebih rumit lagi jika proses pewarnanya mengggunakan warna alam dari akar, biji, kayu, daun tumbuh2an, karena proses pencelupan warna alam harus dilakukan berpuluh puluh kali, dus otomatis menambah sulit dan menambah prosentase kegagalan produk, untuk itu batik warna alam harganya juga lebih mahal.